Oleh: wengga4blokc | Maret 30, 2008

Sekelumit Tentang PBS IPA Kota Banjarbaru

Tanggal 4 Agustus 2006 18 orang hasil seleksi uji kompatensi dan diklat tindak lanjut yang dilaksanakan oleh LPMP dipanggil di SDN Banjarbaru Utara 2, pada hari tersebut ke-18 orang guru menerima SK Walikota No 182 tahun 2006 yang berisi sejumlah kewajiban yang harus dipikulnya sementara ke-18 guru tersebut belum memliki bayangan apapun tentang tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Namun dengan tekad dan semangat yang dimiliki sebut saja PBS-IPA mereka mulai bekerja dengan arahan dan bimbingan dari seorang Widya Iswara LPMP (Zainal Fanany) melalui tangan dingin beliaulah sedikit demi sedikit kami mulai memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan tugas, namun kegamangan dalam menjalankan tugas masih selalu menghantui dalam pekerjaan tersebut, walaaupun kami selalu mengadakan pertemuan secara marathon selama 3 hari siang dan malam bahkan sampai pulang di rumah pada pukul 23.30 Wita. 
Akhirnya pada minggu pertama bulan sepetember kami menyelesaikan sebuah proposal kegiatan yang berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab PBS-IPA untuk mendapat dana bantuan berupa block grant dari LPMP untuk masing-masing gugus, selanjutnya disamping itu kami juga berhasil membentuk suatu forum yang disebut KKBPS-IPA kota Banjarbaru.Setelah terbentuknya forum ini kami rutin melakukan pertemuan setiap minggu sekali di SDN Banjarbaru Utara 2 untuk membahas permasalahan-permaslahan yang dihadapi oleh PBS-IPA di KKG maupun dalam pembelajaran  di kelas.

Ternyata SK walikota No 182 tentang PBS-IPA masih belum terlalu familiar di kalangan bapak ibu Kepala Sekolah SD di Banjarbaru sehingga tidak semua Kepala Sekolah merespon dengan tindakan yang posistif, padahal dalam SK tersebut tersurat bahwa seorang PBS-IPA hanya mengajar di kelas sebanyak 12 jam pelajaran dan 12 jam pelajaran membina guru-guru di gugusnya masing-masing, kenyataan ini sangat menghambat sekali tugas PBS-IPA, bisa dibanyangkan seorang PBS-IPA disamping dia membina guru-guru juga  dibebani mengajar di kelas sebanyak 32 jam ironisnya lagi seorang PBS-IPA tidak mengajar IPA tetapi mengajar mata pelajaran lain bahkan sebagai guru kelas ini gambaran tidak respeknya seorang kepala sekolah dalam menyikapi SK Walikota tersebut, padahal upaya yang dilakukan oleh PBS-IPA sudah cukup memadai salah satu misal menjelaskan secara lisan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang PBS-IPA, menyerahkan copy struktur organisasi KKPBS-IPA dan hari mengajar yang disetujui dan ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan bahkan sampai menyerahkan SK Walikota namun seolah kepala sekolah adalah segalanya ada yang beralasan kurang guru, ada yang berlasan sudah terlanjur dibuatkan SK tugas pembagian kelas, ada yang mengganggap keberadaan PBS-IPA tidak terlalu penting, pendek kata sebagian besar kepala sekolah tidak terlalu mendukung keberadaan PBS-IPA di Banjarbaru.

Disini terlihat jelas kurangnya koordinasi antara kepala sekolah, pengawas, Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kota dalam  mengemban tugas pendidikan, sehingga PBS-IPA merasa keberadaan dan kehadirannya di dunia pendididikan khususnya di Banjarbaru pada waktu itu belum mendapat perhatian serius. PBS-IPA dengan tekatnya tidak akan menyurutkan niatnya dalam mengemban misi tersebut sehingga dengan tergopo gopo PBS-IPA tetap eksis dalam menjankan tugas sampai pada akhirnya tanggal 12 April 2006 Bapak Rudi Resnawan sebagai walikota Banjarbaru mengevaluasi langsung tentang kegiatan PBS-IPA yang bertempat di LPMP dan disaksikan kepala LPMP, Widya Iswara, semua Kasi di LPMP, Kabid Dikdas, Dikmen, pengawas dan kepala sekolah. Saat evaluasi terjadi dialog antara Walikota dengan siswa dan guru yang dibina PBS-IPA, serta PBS-IPA itu sendiri.
Walikota merasa puas atas kerja kami selaku PBS-IPA sehingga beliau memberikan reward sebanyak 18 buah laptop untuk PBS-IPA. Artinya PBS-IPA di Banjarbaru keberadaannya diperlukan untuk membantu mempercepat terwujudnya Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan  
Disadari atau tidak sekarang ini PBS-IPA masih sangat diperlukan keberadaannya oleh teman-teman guru, karena ternyata kegiatan yang dilakukan PBS-IPA di KKG sangat membantu guru-guru dalam menjalankan tugas keseharian. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian guru adalah membuat RPP, menentukan model. metode dan alat peraga serta peer teaching dan reel teching.
Kemampuan PBS-IPA dalam mengelolan KKG menjadi inspirasi bagi teman-teman PBS mata pelajaran lain untuk mengadopsi model dan metode pembinaan horizontal yang dilakukan sesama guru, memang kunci dari keberhasilan kegiatan KKG adalah keberanian seorang PBS-IPA untuk melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran  utamaya saat PBS-IPA  melakukan pendampingan terhadap guru lain saat mengajar di kelas ini adalah suatu keberanian yang luar biasa sebab selama ini belum pernah ada seorang guru mendampingi guru lain yang sedang mengajar di kelas bahkan berani melakukan pengamatan, refleksi serta feet back terhadap kegiatan guru tersebut ini betul-betul jarang dilakukan oleh PBS lain, nah hal ini yang membuat tuga PBS-IPA sangat-angat berat sebab kegiatan ini lazim dilakukan hanya oleh kepala sekolah dan pengawas.
Tetapi dengan kewajiban PBS-IPA yang tertera dalam SK Walikota sebanyak 12 komponen, namun hak-hak PBS-IPA justru banyak dikebiri ini yang membuat semangat mereka mengendur , logikanya seorang yang berjuang untuk memajukan pendidikan haknya juga harus lebih daripada guru lain atau setidak-tidaknya  disamakan haknya dengan guru lain, tetapi kenyataan membuktikan justeru berbanding terbalik, aneeeh …? PBS-IPA bukan merupakan jabatan yang sangat strategis untuk meniti karier di dunia pendidika, sehingga tidak menjadi kebanggan menjadi seorang PBS-IPA, bahkan banyak guru yang enggan atau tidak bersedia menjadi PBS-IPA, terbukti dengan mundurnya salah seorang PBS-IPA dari gugus Biduri lebih dari 5 orang guru yang yang telah mengikuti diklat diberikan kesempatan untuk menggantikannya banyak yang tidak bersedia bahkan menolak.Ini adalah gambaran nyata keberadaan PBS-IPA masih menjadi permaslahan besar di Banjarbaru, sebab belum sebanding antara kewajiban yang dibebankannya dengan hak-hak yang diterimanya, terutama hak-haknya sebagai guru saat menjadi PBS-IPA, baik meniti karier sebagai kepala sekolah ataupun mengikuti sertifikasi.
 
     
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: